Jenis Jahitan pada Luka
Pada penanganan luka robek atau luka iris yang memerlukan penjahitan, dapat digunakan jenis-jenis jahitan, yang disesuaikan dengan kedalaman luka, bentuk luka dan lokasi luka serta untuk alasan estetika. Jika luka telah diyakini bersih dan tidak terkontaminasi, serta kurang dari 8 jam, maka dapat dilakukan penjahitan primer pada luka untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Namun jika luka terkontamminasi berat atau tidak berbatas tegas dan terdapat skin lose, lebih baik luka dibiarkan sembuh per secundam atau per tertiam.
Terdapat beberapa jenis jahitan primer yang dapat dilakukan, diantaranya yaitu:
Jahitan kulit
Jahitan interrupted
* Jahitan simple interrupted atau jahitan satu-satu, jenis jahitan ini paling banyak digunakan karena cukup mudah dikerjakan. Jarak antar jahitan sebaiknya 5-7mm dan batas jahitang dari tepi jahitan sebaiknya 1-2 mm.
* Jahitan matras
Jahitan matras vertikal, jahitan ini digunakan jika eversi tepi luka tidak dapat dicapai dengan jahitan satu-satu
Jahitan matras horizontal, digunakan untuk menautkan fasia dan aponeurosi. Jahitan ini tidak boleh dilakukan untuk menjahit lemak, karena kulit diatasnya akan bergelombang
Jahitan continous
*Jahitan running suture, atau jahitan jelujur. Jahitan ini lebih cepat pengerjaannya, lebih kuat dan pembagian tekanannya lebih rata jika dibandingkan dengan jahitan satu-satu. Namun jika satu benang rapuh atau terlepas, maka seluruh jahhitan akan terbuka. Jahitan jenis ini tidak dapat digunakan pada luka terinfeksi, karena dapat menghambat pengeluaran pus atau darah
*Jahitan interlocking
*Jahitan kantung tembakau
Jahitan dengan stepler
Jahitan subkutis
*Jahitan continous yaitu dengan jahitan terusan subkutikuler atau intradermal. Jahitan ini digunakan jika ingin menghasilkan hasil kosmetika yang baik setelah sembuh.
*Jahitan interrupted dermal stitch
Jahitan dalam, jahitan ini dilakukan pada luka terinfeksi misalnya pada insisi abses, atau dipasang dren.
Sumber: http://klinikkesehatan.com/jenis-jenis-jahitan-pada-luka.htm